Advokat Muda Asal NTT Ini Jadi Pembicara Workshop Unicef di Bangkok

Senin, 10 September 2018 | 19:27 WIB
Share Tweet Share

Yulius Benyamin Seran, bersama Prahesti Pandanwangi (Direktur Hukum dan Perundang-undangan BAPPENAS), saat menulis masukan sebagai solusi nasional meningkatkan perlindungan anak Indonesia dari ancaman kekerasan seksual di Workshop Regional yang diselenggarakan oleh Unicef bekerja sama dengan Childress dan HCCH. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Advokat muda, Yulius Benyamin Seran, SH, mendapat kehormatan diundang sebagai salah satu pembicara dalam Third Regional Workshop on Justice for Children in East Asia and the Pasific (Workshop Regional III Tentang Keadilan untuk Anak di Asia Timur dan Asia Pasifik), di Bangkok, Thailand, 4-7 September 2018 lalu.

Workshop ini diselenggarakan oleh Unicef (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa), sebuah organisasi PBB yang memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan kesejahteraan jangka panjang kepada anak-anak dan ibunya di negara-negara berkembang. Unicef menggelar workshop ini bekerja sama dengan Childress dan HCCH.

Advokat muda asal NTT ini diundang sebagai pembicara bersama para advokat dari berbagai negara di dunia, karena keterlibatan aktifnya dalam menangani sejumlah perkara yang terkait anak - anak di Bali, selama ini.

Selain itu, Benyamin Seran juga diundang karena kapasitasnya sebagai pengacara Project Karma, sebuah NGO yang konsen terhadap perlindungan anak dan bermarkas di Australia. Project Karma akan melebarkan sayapnya, dengan membuka perwakilan di Indonesia, khususnya Bali dan Batam.

Screenshot_2018-09-10-20-19-43_com.outthinking.collagelayout_1536582059035

Yulius Benyamin Seran (tengah) bersama advokat asal Inggris Mr Alan Collins (Specialist Personal Injury and Abuse Claims) dan advokat asal Prancis Mr Fredric Breger (Collaborateur Juridique Hugeu Confrerence on Private International Law - HCCH). [foto: istimewa]

"Saya merasa sangat bangga, karena mendapatkan kesempatan ini. Apalagi saya menjadi pembicara dalam forum internasional yang diselenggarakan oleh lembaga PBB, dan bersanding dengan pengacara kenamaan dari negara lainnya di dunia," tutur advokat kelahiran Atambua, berusia 34 tahun ini.

Ia tak menampik, dirinya diundang sebagai pembicara dalam workshop yang diselenggarakan oleh Unicef ini lantaran kapasitasnya sebagai pengacara Project Karma, NGO yang bermarkas di Australia.

"Saya pengacara mereka. NGO ini yang berada di balik pengungkapan kasus paedofilia di Bali dengan pelaku Robert Elis, warga negara Australia. Di Australia, mereka dikenal sebagai LSM perlindungan anak. Mereka akan lebarkan sayap di Indonesia, khususnya Bali dan Batam," paparnya.

Bukan itu saja. Reputasinya dalam menangani kasus anak di Bali, juga menjadi pertimbangan pihak penyelenggara memberikan tempat baginya untuk duduk sebagai pembicara dari Indonesia.

"Saya menangani kasus Baby S, kasus Baby J, juga kasus Gek Candra. Mungkin ini juga yang menjadi pertimbangan kenapa saya ditunjuk sebagai pembicara dalam workshop internasional itu," jelas Benyamin Seran, yang memang sering menjadi kuasa hukum warga negara asing yang sedang menghadapi kasus hukum di Bali.

Khusus dalam kasus Baby S, Benyamin Seran dipercaya menjadi pengacara Heather Lois Mack, saat peralihan hak asuh Baby S dari dalam Lapas Kerobokan kepada pengasuh sementara berkewarganegaraan Australia.

Kasus Baby S yang adalah anak Heather Lois Mack ini sangat fenomenal karena lahir dan tumbuh di dalam penjara. Saat memasuki usia dua tahun, Baby S diperebutkan di Amerika Serikat oleh keluarganya untuk dibawa ke Amerika Serikat.

Namun berkat perjuangan Benyamin Seran, Baby S berhasil diselamatkan untuk tetap berinteraksi dengan ibu kandungnya yang masih di dalam Lapas Kerobokan karena membunuh ibu kandungnya pada tahun 2015 silam di Hotel St Regis Nusa Dua.

Anak Heather L Mack adalah ahli waris tunggal dari James L Mack, seorang musisi jazz ternama asal Amerika Serikat yang sangat terkenal di era 1980-an.

Screenshot_2018-09-10-20-20-02_com.outthinking.collagelayout_1536582032092

Yulius Benyamin Seran (tengah) bersama perwakilan BAPPENAS dan Kementerian Sosial RI, di sela-sela Workshop Regional III Tentang Keadilan untuk Anak di Asia Timur dan Asia Pasifik. [foto: istimewa]

Tak sekedar tampil sebagai pembicara, namun Benyamin Seran juga banyak memberikan gagasan dalam Workshop Regional III Tentang Keadilan untuk Anak di Asia Timur dan Asia Pasifik, yang juga dihadiri perwakilan Bappenas dan Kementerian Sosial RI itu.

"Banyak hal yang dibahas di sana. Dan saya berbangga hati, karena ternyata banyak gagasan yang saya lontarkan diapresiasi oleh forum. Yang lebih membanggakan lagi, semua gagasan ini nantinya digodok untuk selanjutnya menjadi acuan Konvensi PBB terkait perlindungan anak," kata Benyamin Seran.

"Saya misalnya meminta agar UU Perlindungan Anak di Indonesia mengakomodasi hak sipil anak untuk mendapatkan kompensasi dan restitusi dari pelaku kekerasan terhadap anak dan negara. Jadi negara juga harus bertanggung jawab. Ketika anak menjadi korban, maka di sana negara lalai," imbuhnya.

Di India dan beberapa negara lain, menurut dia, ketentuan ini sudah diberlakukan. Artinya, negara juga bertanggung jawab saat anak menjadi korban kekerasan, selain pelaku.

"Jika apa yang saya usulan ini kelak diakomodir dalam Konvensi PBB, tentu ini akan menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab kalau sudah ada Konvensi PBB, maka negara-negara anggota PBB, harus meratifikasi Konvensi ini ke dalam UU," tandas Benyamin Seran.

Screenshot_2018-09-10-20-31-46_com.outthinking.collagelayout_1536582728038

Yulius Benyamin Seran, di sela-sela mengikuti Workshop Regional III Tentang Keadilan untuk Anak di Asia Timur dan Asia Pasifik, di Bangkok, Thailand. [foto: istimewa]

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar