Pater Flori Laot OFM, Menantikan Kembali Imam Bombol Nggurus

Selasa, 28 Agustus 2018 | 18:36 WIB
Share Tweet Share

Pater Flori Ofm (Foto: Cover buku)

Oleh Markus Makur, Jurnalis Tinggal di Manggarai Raya

Postingan saya di laman facebook dengan judul "Merindukan Pater Flori Ofm Hidup Kembali" yang dimuat di media online Indonesiakoran.com mendapatkan tanggapan dan komentar terhadap features atau barangkali opini.

Baca: http://www.indonesiakoran.com/news/kolumnis/read/76961/merindukan.pater.flori.ofm.hidup.kembali.saat.ini

Salah satu yang memberikan komentar adalah teman kelas saya di SMAK Setia Bakti angkatan 1996 jurusan IPA-Biologi, yang sering disebut juga jurusan A2. Namanya Sisilia Satri Agus. Ia memberikan komentar artikel saya ini dengan berkata “yang saya ingat bombol nggurusnya”.

Selanjutnya teman kelas saya itu menambahkan, “Olee... sekitar SMP-SMA e kawan. Dia (Pater Flori Laot Ofm) jual dari rumah ke rumah... dan juga dia tidak mau jualannya hanya di beli satu orang (borongan)...semua orang harus menikmati hasil kebunnya”.

Membaca komentar itu saya memutuskan untuk menulis lagi tentang imam sederhana dalam penampilan namun hati dan tindakannya penuh bijaksana.

Berbagai tanggapan yang mendukung tulisan itu diungkapkan oleh beberapa teman yang menjalin pertemanan di dunia maya. Yang membanggakan saya adalah komentar seorang Imam Fransiskan yang seordo dengan Pater Flori Ofm yang sedang belajar di Austria. Nama imam itu adalah Pater Frumens Gion Ofm.

Selain itu, judul artikel kedua ini saya terinspirasi dengan komentar teman kelas saya dan saat itu pula hati nurani saya tergerak untuk mengangkat lagi kisah imam pribumi itu yang bergabung dalam serikat Santo Fransiskus Asisi.

Saya sesungguhnya kagum dan terpikat dengan kisah imam Fransiskan itu yang berani melawan perasaan malunya sendiri dan keluar dari kenyamanan di paroki atau biaranya dan menyapa umatnya dengan cara menjual hasil bumi Manggarai Raya dengan sangat sederhana. "Bombol nggurus "adalah sebuat alat dari sebuah kain dengan membungkus hasil bumi seperti Nggurus, cabai dari kebunnya sendiri yang dia manfaatkan kebun biara atau kebun paroki ditempat tugasnya.

Bombol dan Orang Manggarai Raya

Orang Manggarai Raya yang tersebar di pelosok-pelosok terpencil memiliki kebiasaan membungkus barang-barang berharga apabila bepergian untuk mengunjungi keluarga, upacara adat perkawinan dan lain-lainnya selalu membawa bombol yang berasal dari kain atau karung terigu berwarna putih. Segala keperluan disimpan dalam tempat itu.

Sebelum orang Manggarai Raya mengenal tas hasil produksi pabrik serta berbagai barang-barang pabrik sudah memiliki kebiasaan untuk menyimpan pakaian atau uang dalam tempat sederhana yang disebut bombol.

Kearifan lokal itu direnung dan dilaksanakan oleh Imam Fransiskan, Pater Flori Laot Ofm untuk menyimpan hasil kebunnya dari kebun biara atau kebun paroki untuk dijual dari rumah ke rumah di Kota Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Menjual cabai hasil olahan tangannya di kebun biara atau kebun paroki dengan jalan kaki dari rumah ke rumah. Kita bayangkan betapa berat jalan kaki di Kota Ruteng dengan hawa dingin. Namun, imam itu telaten untuk menjual hasil kebunnya secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di biara ataupun di paroki. Mungkin saat itu Pater tetap memakai baju ordonya ketika menjual hasil kebunnya, yang salah satunya adalah cabai.

Melawan Perasaan Malu

Orang Manggarai adalah orang bercocok tanam berbagai jenis tanaman. Namun, orang Manggarai yang tersebar di kampung-kampung tidak terbiasa menjual hasil olahan tangannya melainkan dikonsumsi sendiri dan dibagikan secara Cuma-Cuma kepada keluarga, tetangga dan siapa saja yang memintanya.

Imam ini hadir untuk memberikan pelajaran dan pengalaman kepada orang Manggarai untuk memulai menjual hasil olahan tangannya, baik dari rumah ke rumah maupun di pasar tradisional. Dengan cara sederhana ini imam ini ingin mandiri dalam memenuhi keuangan di parokinya maupun di biaranya walaupun hasilnya sedikit dari hasl jualannya.

Walaupun dia menyandang imam, dia menempatkan diri imamnya di meja altar kudus, namun dalam keseharian Ia menyapa umat dan saudaranya dari rumah ke rumah dengan menjual hasil olahan tangannya. Ia berbuat dan bertindak nyata secara langsung untuk mengajak orang berubah dari pola lama ke pola baru dalam meningkatkan perekonomian keluarga.

Selain menjual hasil olahannya, ia juga ingin mengetahui cara hidup orang Manggarai dari pribadi ke pribadi untuk ia refleksikan dalam ziarah panggilannya.

Sedikit Bicara Banyak Bertindak Nyata

Memang saya sebagai orang Manggarai tidak pernah bertemu langsung dengannya selama sekolah di Kota Ruteng. Namun, kesederhanaan dan tindakan nyata serta berbuat langsung kepada orang Manggarai menginspirasi saya untuk menulis sesuai penuturan lisan dan berbagai komentar dari orang Manggarai.

Pater Flori sangat memahami tentang sabda Allah yang ia pelajari di lembaga pendidikan mulai dari seminari sampai di perguruan tinggi “Iman tanpa perbuatan adalah Mati” dan juga "tiada yang mustahil di hadapan Allah.”

Pater Flori selalu menghidupkan dan membangkitkan hasrat imannya kepada Sang Guru Agung-Nya dengan berbuat langsung. Ia mengetahui benar dalam permenungan dan refleksi hidupnya sebagai seorang imam bahwa ia tidak sendiri berziarah di dunia ini. Sesungguhnya Ia tidak mengemis kepada orang-orang, tetapi Ia memperoleh rezeki dari orang-orang dengan menjual hasil olahan tangannya.

Ia juga tidak meminta-minta dengan cuma-cuma dari orang-orang yang Ia jumpai, tetapi Ia menyatakan karya tangannya kepada sesama dan memberikan contoh secara langsung bahwa kerja keras dari olahan tangannya akan membuahkan rezeki. Ia mendapatkan rezeki dari umatnya dan orang-orang dijumpainya dengan menjual hasil olahan tangan di kebunnya.

Seorang imam Fransiskan yang sedang belajar di Austria, Pastor Frumens Gion Ofm dalam komunikasi lewat media whatsapp.

Menyatakan Pastor Flori Ofm itu inspirasi. Dia dapat dipandang sebagai kritik dan bahkan antitesis terhadap “omong besar” dan nafsu kuasa.

Sejatinya Pastor Flori Ofm memegang empat prinsip dalam budaya orang Manggarai, 4R: ruis, reis, raes dan raos. Tidak ada ris kalau kita tak sanggung untuk ruis. Ruis bukan dalam arti geografis atau narsis tetapi lebih pada kebutuhan internal untuk memahami, mengerti dan lalu berjalan bersama. Ris akan penuh basa basi kalau kita tak ruis secara emosional dan empatik.

Aspek lain, lanjut Pastor Frumens, Pater Flori Ofm membangkitkan ekonomi kreatif. Kita bisa berbagi dengan apa-apa yang bisa kita kerjakan dan hasilkan sendiri. Ada apresiasi positif terhadap buah kerja dan buah pikiran sendiri. Manggarai dan Indonesia umumnya kerap menilai lebih baik apa-apa yang berasal dari luar. Ini yang hendak dikoreksi dan diluruskan oleh Pater Flori Ofm.

Menurut pandangan penulis, Pastor Flori Ofm selain menjual hasil olahan tangan di kebunnya juga dia memegang prinsip budaya Manggarai 4R tersebut sehingga Dia selalu ruis, reis, raes dan raos kepada orang-orang yang dijumpainya serta umatnya.

Jarang Menjumpai Imam Seperti Ini

 Kecanggihan teknologi di zaman globalisasi memudahkan orang berkomunikasi dengan telepon seluler yang serba canggih. Mungkin dengan media teknologi memudahkan orang untuk menjual hasil olahan tangannya melalui pesan singkat serta whatsapp serta membuat iklan di media sosial melalui telepon seluler.

Kemudahan-kemudahan itu mampu menawarkan berbagai produk hasil olah tangan dengan menulis pesan serta mengirimnya kepada relasi, keluarga dan umat melalui peralatan canggih tersebut.

Menawarkan produk hasil olahan tangan bisa dilaksanakan dari berbagai tempat, kamar tidur, ruang kerja, restauran, tempat-tempat umum, serta saat mengendarai kendaraan mewah. Lain zaman lain caranya berbuat dan menawarkan produk.

Belum lama ini Paus Fransiskus menyarankan agar kalangan biarawan dan biarawati meminimalisir waktu dan hasrat dalam menggunakan media sosial. Tujuannya supaya para biarawan dan biarawati tetap fokus pada karya dan pelayanan serta kebiasaan-kebiasaan yang sudah lazim dilaksanakan selama ini sebagai seorang biarawan-biarawati. Paus sesungguhnya tidak melarang mereka untuk menggunakan media sosial melainkan meminimalisir penggunaannya dan menggunakannya dengan cerdas dan bijaksana untuk menyampaikan kabar baik.*

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar