Putri Suastini Koster: Seniman Jangan Pernah Berhenti Berkesenian

Selasa, 20 Maret 2018 | 19:02 WIB
Share Tweet Share

Putri Suastini Koster, saat membawakan puisi dalam acara deklarasi dukungan masyarakat untuk pasangan Koster-Ace di Lapangan Ketut Ridis, Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. [foto: istimewa]

[DENPASAR] Lebih dari 40 tahun, Putri Suastini Koster telah malang melintang di dunia seni. Ia memiliki pergaulan yang sangat luas di kalangan seniman, baik di ranah lokal Bali maupun level nasional.

Kini, istri Calon Gubernur Bali Nomor Urut 1 Wayan Koster itu memang sudah tak aktif lagi seperti dulu di panggung seni yang melambungkan namanya itu.

Namun, ia tetap menyempatkan diri di sela-sela kesibukannya mendukung akifitas sang suami, Wayan Koster sebagai politisi, untuk menularkan semangat agar para seniman muda tidak takut untuk terus berkesenian.

Senin (19/3/2018) misalnya, ia menyempatkan diri mengunjungi Sanggar Seni Tepi Siring yang berada di Bajar Uma Kepuh, Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Sanggar seni milik sahabat lamanya seniman serba bisa Wayan Selat Wirata, itu dulunya begitu ia akrabi, saat masih aktif berkesenian khususnya berteater.

"Dulu tahun 90-an, di sini masih berupa pondok saja, dan di samping-sampingnya masih sawah semua. Sekarang sudah berubah, sudah banyak rumah-rumah. Makanya tadi saya sempat pangling, mengingat-ingat tempatnya," kenang Putri Suastini.

Di tempat ini, Putri Suastini bertemu dengan sejumlah anggota sanggar, para seniman teater muda asuhan Dewa Ketut Jayendra, yang kebetulan sedang mengadakan latihan persiapan untuk sebuah pertunjukan.

Bertemu dengan para seniman muda, digunakan ibu dua putri itu untuk berbagi pengalaman bersama mereka. Ia juga memberikan dorongan dan motivasi untuk terus berkesenian.

"Kita (seniman) jangan pernah berhenti berkesenian. Saya sampai sekarang juga masih aktif, tapi tidak seperti dulu. Sekarang saya berkesenian melalui puisi. Melalui persembahan puisi, selain untuk menghibur, juga kita ingin mendinginkan suasana ketika suhu politik mulai memanas," ujarnya, sembari mengajak para seniman muda di sanggar tersebut.

Perempuan asal Padangsambian Kaja, Kota Denpasar, yang telah berulangkali menjuarai lomba puisi tingkat nasional ini menuturkan, meski ia belum mampu berbuat hal yang luar biasa bagi masyarakat, namun bukan berarti ia akan berhenti untuk terus berbuat sesuatu.

"Saya akan terus berbuat untuk orang lain, dengan sepenuh hati melalui hal-hal kecil yang bisa saya lakukan. Semoga itu bisa berguna dan diterima oleh masyarakat," ucapnya, sembari menambahkan salah satu hal kecil yang dimaksud ialah dengan menampilkan "puisi mantra" di setiap ada kesempatan.

Selain itu, seniman multi talenta yang telah menggondol berbagai penghargaan tingkat nasional dari berbagai kegiatan berkesenian yang dilakoninya itu, juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib para seniman Bali yang seringkali kurang beruntung di hari senjanya.

"Bukan cuma karyanya yang kita nikmati dan hargai, namun juga harus memberi penghargaan bagaimana agar kehidupan mereka bisa sejahtera. Mereka sudah banyak berbuat dan mendedikasikan hidupnya dengan berkarya untuk masyarakat. Jadi sudah sepatutnya mereka juga mendapat penghargaan yang setimpal," ujar alumni SMAN 1 Denpasar itu.

Sementara Wayan Selat Wirata dan Dewa Ketut Jayendra, menuturkan, mereka sudah puluhan tahun mengenal Putri Suastini.

Keduanya berkisah bahwa dulu sering berkolaborasi dengan Putri Suastini, baik di teater termasuk juga pembuatan sinetron dan sendratari kolosal yang mengangkat kepahlawanan Ida Istri Kania, dalam memimpin perang Puputan Klungkung.

"Kebetulan Bu Putri yang jadi pemeran utamanya. Bahkan dia sampai menyabet penghargaan sebagai pemeran wanita utama terbaik tingkat nasional di Jakarta," ungkap Selat Wirata, yang juga aktif di dunia pedalangan.

Sedangkan Dewa Ketut Jayendra, mengaku sangat senang bisa bertemu Putri Suastini kembali. Ia menceritakan, sudah mengenal Putri Suastini sejak awal tahun 90-an.

"Selain di sini, dulu juga sering ketemu di Sanggar Kayu Putih di Jalan Surapati Denpasar. Tapi sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu lagi setelah itu, karena kesibukan masing-masing," ujarnya.

"Tapi yang namanya seniman, biar jarang ketemu tapi hati dan pikiran kami tetap terhubung. Pas sekali ketemu seperti sekarang, pasti yang diomongin topiknya tidak jauh-jauh soal bagaimana memajukan dunia seni kita. Karena iya, memang jiwa kami di sana (dunia seni)," pungkas Jayendra.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar