Kurang Gizi Hingga Jadi Kuli, Koster Kecil Jadi Bintang di Kelas

Senin, 05 Maret 2018 | 08:03 WIB
Share Tweet Share

Calon Gubernur Bali Nomor Urut 1, Wayan Koster, saat berbincang - bincang dengan seorang pedagang di sebuah pasar di Kota Denpasar. [foto: istimewa]

[DENPASAR] Tak banyak yang tahu, jika Calon Gubernur Bali Nomor Urut 1, Wayan Koster, menjalani kehidupan yang pahit di masa kecil. Namun kegetiran hidup itu, ternyata menjadi pelecut bagi Koster kecil untuk meraih prestasi di dunia pendidikan.

Di hadapan ratusan warga di Banjar Tag-Tag Tengah, Kota Denpasar, Minggu (4/3/2018) sore, Koster bercerita banyak soal kisah hidup yang membentuk jati dirinya hingga saat ini.

Ia menjelaskan, dirinya lahir di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, dalam kondisi yang memprihatinkan.

"Rumah saya terbuat dari bedeg dan lantainya tanah. Belum ada kompor zaman dulu. Orangtua saya pakai tungku," kata Koster.

Lantaran hidup di tengah kemiskinan, hampir setiap hari Koster kecil hanya mengonsumsi umbi-umbian sebagai makanan. Menu makanan babi guling, amat istimewa baginya kala itu yang tak tiap hari bisa ia santap.

Bahkan, Koster mengaku bisa terhitung jari ia menyantap menu makanan khas lezat tersebut.

"Saya makannya umbi-umbian. Makan babi guling itu kalau ada orang bikin acara. Makan nasi seperti mimpi buat saya. Itu sebabnya perawakan saya kecil begini. Mungkin kalau sekarang, saya dibilang kurang gizi atau gizi buruk," ujar Koster berkelakar, disambut gelak tawa warga.

Kelas 4 SD, Koster terpaksa harus menjadi buruh angkut di desanya. Itu dilakukan, untuk menambah uang sakunya.

Uang hasil bekerja dititipkan kepada orangtuanya. Uang itu digunakan untuk membiayai segala keperluan pendidikannya kala itu.

Jika ada sisa, sang ibu akan membelikannya selembar baju. Itu pun dibeli saban Hari Raya Galungan saja.

Itu sebabnya, Koster selalu menyayangi segala hal yang diberikan oleh orangtuanya. Bahkan, baju yang dibelikan ibunya, tak langsung dikenakan. Ia simpan dahulu dan dipakai jika ada acara tertentu.

"Kelas 4 SD saya mekuli (bekerja) jadi buruh angkut pasir, juga angkut bata. Saya jalan angkut-angkut sejauh tiga kilometer," kenang Koster.

Koster kecil sadar jika pendidikan satu-satunya jalan mengubah nasib. Ia belajar begitu giat. Itu sebabnya sejak SD, ia selalu menjadi bintang kelas.

"Meski miskin, saya juara," kata Koster, yang sudah tiga periode duduk sebagai anggota DPR RI.

Koster kecil nyaris putus sekolah. Beruntung, ada pihak yang membantunya melanjutkan sekolah, begitu ia lulus SD.

"Lulus SD, ada yang bantu saya bisa masuk SMP. Begitu juga lulus SMP, saya juga ada yang bantu bisa masuk SMA," ucapnya.

Di tingkat SMP, Koster satu angkatan dengan Gede Prama, di Bhaktiyasa. Bersama tokoh motivator Bali itu, ia berpacu dalam prestasi.

Kadang kala, Koster juara 1 dan Gede Prama juara 3. Namun di lain kesempatan terjadi sebaliknya, Gede Prama juara 1 dan Koster juara 3.

Kebersamaan Koster dan Gede Prama berlanjut hingga tingkat SMA. Hanya saja, Gede Prama mengambil jurusan IPS, sementara calon gubernur yang berpasangan dengan Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati itu mengambil jurusan IPA. 

"Begitu lulus SMA saya masuk ITB pada tahun 1981. Saya modal nekat kuliah. Saya sudah siapkan diri sambil kerja untuk membiayai kuliah," jelasnya.

Tahun 1987, Koster muda lulus S1 ITB. Ia kemudian diterima sebagai pegawai honorer di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai peneliti.

"Tahun 1987 itu saya terima honor Rp60 ribu tiap bulan. Saya nyambi sambil mengajar matematika. Saya senang sekali dengan matematika. Dari honor mengajar, saya dapat tambahan uang Rp70 ribu. Ada Lebihnya, saya kirim ke kampung untuk orangtua dan adik-adik saya," paparnya.

Tak hanya itu, Koster juga mulai membiasakan diri menulis. Hingga suatu ketika, naskahnya diterima oleh penerbit untuk dicetak menjadi buku.

"Karena tidak punya uang, saya berpikir keras cari tambahan. Tapi dari situ saya kemudian jadi senang menulis buku. Waktu itu juga saya sambil berdagang," urai Koster.

Meski bernasib cukup baik, Koster menyesal tak dapat berbuat banyak untuk keempat adiknya, yang tak dapat mengenyam pendidikan tinggi seperti dirinya. Dari sana pula Koster begitu serius jika bicara pendidikan, utamanya di DPR RI.

"Empat adik saya tidak ada yang menolong seperti saya. Orangtua saya tidak punya biaya untuk keempat adik saya," pungkas Koster.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar