Irwandi, Putra Indonesia Kedua Raih Penghargaan Raja Faisal

Sabtu, 13 Januari 2018 | 09:53 WIB
Share Tweet Share

irwandi

[JAKARTA]-- Profesor muda berdarah Minang, Irwandi Jawsir meraih Penghargaan Internasional Raja Faizal (King Faizal International Prize) dari Yayasan Raja Faisal (King Faisal Foundation).

Laki-laki kelahiran Medan, Sumatera Utara, 20 Desember 1970 tersebut merupakan orang Indonesia kedua yang meraih penghargaan dunia dari Yayasan Raja Faisal (King Faisal Foundation). Penghargaan sebelumnya diberikan kepada Mohammad Natsir pada 1980.

Penghargaan diterima Irwandi yang menamatkan Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri Pekan Kamis, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam dan SMA Negeri Bukit Tinggi, Sumatera Barat tersebut atas jasa dia mengembangkan riset dan pengembangan Ilmu Halal.

Keterangan Panitia Penghargaan Internasional Raja Faisal dalam laman Internetnya menyebutkan, penghargaan itu adalah bentuk pengakuan atas jasa Irwandi untuk Islam dan umat Muslim.

"Alhamdulillah, saya tidak menyangka diberi anugerah bergengsi ini. Tapi, lebih dari itu, penghargaan ini merupakan kemenangan buat para saintis di negara-negara Islam, terutama di Asia," kata Irwandi seperti dimuat Web Kantor Berita Antaranews.com, Sabtu (13/1).

Irwandi meraih gelar sarjana di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pangan di Institut Pertanian Bogor (IPB), gelar doktor dia raih di Universiti Putra Malaysia 18 tahun silam.

Saat ini ia bekerja sebagai koordinator riset di Halal Industry Research Centre, Universitas Islam Internasional di Malaysia dan hasil risetnya banyak mengisi berbagai jurnal ilmiah dan artikel ilmiah internasional.

Menurut Irwandi, menelaah Al Quran dari kacamata ilmu pengetahuan ada tantangan tersendiri. "Ketika orang menghargai karya Anda, itu tentu memberi kepuasan tersendiri. Semoga anugerah ini memberi kebaikan buat semua."

Irwandi, yang sudah mengoleksi 60 penghargaan internasional, termasuk Asia Pacific Young Scientist Award 2010 dari Scopus dan Habibie Award di bidang Kedokteran dan Bioteknologi 2013.

Menurut bapak dari empat anak ini, kebanyakan penerima penghargaan di kategori Pelayanan untuk Islam (Service to Islam) itu adalah ulama, pakar agama atau politisi. "Saya merupakan ilmuwan pertama yang menang kategori ini," kata Irwandi.

Dengan keberhasilan itu, Irwandi mendapatkan sertifikat kaligrafi bertuliskan tangan tentang prestasinya dan emas 24 karat seberat 200 gram, serta uang senilai 200.000 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekira Rp 2,673 miliar.

Irwandi dinilai sukses menjadikan Universitas Islam Internasional di Malaysia menjadi pusat penelitian dan riset terkait makanan halal.
Penghargaan itu juga diberikan atas jasanya melakukan riset tentang makanan halal alternatif, dan produksi gelatin dari produk nonbabi, seperti unta dan ikan.

Irwandi juga dianggap berjasa mengembangkan teknik cepat untuk mengidentifikasi makanan, kosmetik dan produk-produk nonhalal, seperti metode Portable Electronic Nose yang mampu mendeteksi keberadaan alkohol dan lemak babi di makanan maupun minuman, sehingga akan memudahkan warga Muslim memilih makanan halal.

Acara pemberian Penghargaan King Faisal International Prize itu dihadiri Pangeran Khaled Al-Faisal, merupakan emir Makkah dan Ketua Yayasan Raja Faisal digelar di Prince Sultan Grand Hall of Al-Faisaliah Center di Riyadh, Rabu (10/1).

Setiap tahun King Faisal Foundation membuka nominasi untuk lima kategori, termasuk kedokteran dan ilmu pengetahuan. "Saya dinominasikan dari kampus International Islamic University Malaysia, tempat saya menjadi professor dan peneliti," ujar suami Fitri Octavianti yang berkarier sebagai dokter gigi itu.

Selama ini ada 120 publikasi ilmiah di jurnal internasional terkait pangan dan industri halal. Dia juga mengembangkan alternatif bahan halal untuk pangan, kosmetik dan obat-obatan, meneliti mendeteksi bahan tidak halal, melakukan pelatihan sertifikasi halal di dalam dan luar negeri," demikian Irwandi Jawsir. [A3]

Editor: Akhir Tanjung

Tag:

Berita Terkait

Komentar