Suster Virgula, “Mother Theresa” dari Flores

Selasa, 13 Juni 2017 | 17:51 WIB
Share Tweet Share

Sr. Virgula Schmitt SSpS [foto: francis magung]

Sr.  Virgula Schmitt SSpS, perintis Panti Pusat Rehabilitasi Kaum Difabel dan Kusta St Damian dan Rumah Sakit St Rafael – keduanya terletak di Cancar, ibukota Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Ia juga merupakan pendiri pusat rehabilitasi serupa di Binongko, Labuan Bajo, Manggarai Barat. Kini Sr. Virgula menetap di Belanda.

 ***

Danke "Mama Lula", seperti anak-anak Damian menyapamu. Mama Lula memang cantik. Secantik hati dan niat tulusmu bagi kaum yang 'terbuang'.

Itulah sosok Sr. Virgula SSpS yang tak pernah terlupakan. Hidupnya dia abdikan untuk pembebasan.

Ziarah Pembebasan adalah mozaik kata, kumpulan testimoni orang-orang yang pernah mengalami cintanya, kaum kusta-cacat. Kini lembaga yang dirintis dan didirikannya sudah berusia 50 tahun. Ia hanya bisa melihat karya besarnya dari negeri Belanda.

Suster Virgula berasal Grunebach, Jerman. Putri bungsu dari 8 bersaudara. Putri tunggal dari pasangan Bapak Yoseph Smith dan Mama Ana ini memutuskan hidup membiara. Keputusan itu diambilnya setelah melewati pergolakan batin yang menurutnya sebagai "keganjilan".

Ia memilih masuk Kongregasi Suster-Suster Abdi Roh Kudus (SSpS). Tahun 1957, menerima kaul pertama hidup membiara. Delapan tahun kemudian, tepatnya tahun 1965, Sr. Virgula diutus untuk menjalankan misi di Indonesia, tepatnya di Manggarai, Flores.

Beliau sempat bertemu Ir. Soekarno yang ‘membesuk’ putrinya, Megawati, yang dirawat di RS Sint Carolus. Ketika diberitahu ia akan bertugas di Flores, Soekarno lalu bertutur dalam bahasa Belanda, bahwa ia punya teman-teman pastor di Ende. Ia menyebutkan nama-nama mereka dan menitipkan salam untuk mereka.

Kala itu, sebelum berpisah, Soekarno sempat berkata, “Aduh kau cantik sekali." Sr. Virgula sempat protes. Belakangan ia diberitahu oleh suster yang lain bahwa itu adalah Presiden RI. Betapa terkejutnya dia.

Tidak banyak kisah bisa ditulis tentangnya. Bukannya tiada kisah itu, tetapi prinsip dan sikapnya yang tidak suka dipublikasikan oleh siapa pun. Ia selalu berujar:

"Ini karya Tuhan sendiri, bukan karya saya. Saya bukanlah orang hebat atau orang pintar yang layak dibukukan. Saya melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki."

Tetapi ia sempat bilang, kalau mau menulis tentang saya ada syaratnya.

"Kalau saya sudah tidak ada, terserah kamu menulis apa saja tentang saya."

Saat ini memang suster "sudah tidak ada" di Manggarai, Flores (kembali ke Steyl, Belanda), artinya dipahami bahwa siapa pun bisa menulis tentangnya.

Tahun 1965, melihat kebutuhan masyarakat sekitar yang banyak menderita penyakit malaria, cacing dan TBC, juga menyaksikan masyarakat sendiri sama sekali belum sadar akan kesehatan yang baik dalam keluarga maka atas prakarsa Pater Wibrin SVD (Pastor Paroki Cancar saat itu) dan Mgr. Wilhelmus van Bekkum SVD (Uskup Ruteng yang pertama), meminta pimpinan Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) untuk membuka sebuah poliklinik atau Balai Pengobatan di Cancar.

Selama pelayanan di Manggarai, Flores, tetesan keringat, air mata, juga darah mewarnai perjalanan hidupnya bersama Pusat Rehabilitasi Kusta-Cacat St. Damian. Ia bekerja dengan sepenuh hati, tanpa mengenal lelah.

Suster Virgula memang tidak menyukai kalau aktivitasnya diberikan oleh media pencitraan diri atau untuk menarik simpatik. Ia menolak dengan keras jika karya dan sepak terjangnya diliput. Ia selalu berargumen setiap kali ada wartawan yang mau menulisnya, “Kalau mau menulis tentang saya jika saya sudah tidak ada lagi”.

Suster Virgula adalah wanita hebat, yang pernah dimiliki oleh masyarakat Indonesia, Manggarai, Flores, NTT khususnya. Di daerah tersebut, siapa yang tidak mengenal jasa suster Virgula?

Mungkin, generasi saya, sampai ke bawah banyak yang tidak mengenal Suster Virgula. Tetapi, orang tua kami, nenek atau kakek kami, sangat mengenal Suster Virgula.

Saudari kandung saya, pernah dirawat oleh suster Virgula sejak persalinannya. Mama saya bercerita, saudara saya (Yui) dulu kakinya lahir tidak normal. Kini, Yui sudah berumur 25 tahun. Suster Virgulalah yang merawatnya hingga sembuh dari cacatnya itu.

Suster Virgula yang Menghargai Keberagaman

Suster Virgula merupakan perawat dan juga biarawati Katolik taat. Hampir ribuan pasien yang telah dilayani baik penyandang disabilitas, yatim piatu maupun orang kusta.

Dari sekian banyak pasien, ada dua orang muslim, Abdul dan Panusu,  yang penulis kenal secara baik. Abdul berasal dari Nusa Tenggara Barat, sedangkan Panusu dari Bone, Sulawesi Selatan. Mereka menderita kusta sejak masa mudanya. Dan sejak itulah, mereka dirawat oleh Suster Virgula.

Dua tahun lamanya, Panusu berbaring terus di tempat tidur karena sekujur tubuhnya karena mengudap penyakit kusta. Ia harus berbaring beralaskan daun pisang. Saat mandi dan dibersihkan, gumpalan-gumpalan daging berjatuhan. Dalam waktu yang cukup lama ia hanya dibolehkan makan wortel yang diparut oleh Suster Virgula sendiri.

"Saya sangat menderita dan rasanya lebih baik mati saja,” Panusu pasrah kala itu.

Suster Virgula datang dan menghibur sambil membalut luka-lukanya. Suster Virgula menceritakan kisah masa lalunya, termasuk perjalanan hidupnya yang penuh pergulatan. Suster Virgula tipe periang dan mencoba pasien betah dan tidak cepat putus asa terhadap keadaan.

Setelah agak sehat, Panusu dilatih bekerja di bengkel dekat kota Labuan Bajo sampai sekarang.

Setiap tahun Abdul berlibur ke kampung halamannya di Bone, Sulawesi Selatan, saat puasa menjelang Lebaran. Bahkan, di panti asuhan sebagai seorang Muslim Abdul tetap menjalankan aktivitas keagamaannya seperti sahur, buka puasa pada bulan puasa.

Abdul Wahab adalah pasien kusta yang sudah sembuh total berkat tangan Suster Virgula. Ia pernah menyampaikan niatnya untuk dipermandikan menjadi Katolik, tetapi Suster Virgula menolaknya secara tegas.

Menurut pengakuan Abdul, Suster Virgula mengatakan, "Adik! Saya tidak mau orang tuamu menuduh saya mengkristenkan engkau. Jadi Muslim yang taat beriman dan beribadah itu sudah luar biasa. Tidak perlu harus menjadi Katolik."

Suster Virgula mencari tanah untuk Abdul yang letaknya dekat masjid supaya ia bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Dapatlah sebidang tanah di Merombok, Labuan Bajo. Ia dibuatkan rumah dan diberi modal untuk membuka kios. Ia kemudian menjadi orang yang mandiri.

Dari situ juga kemudian Suster Virgula melihat peluang di Labuan Bajo untuk melebarkan sayap pelayanan Panti St. Damian dan tetap menjaga hubungan yang baik dengan kalangan dari agama lain.

Memasuki masa pensiun, 2013 yang lalu, Sr. Virgula memutuskan untuk kembali ke biara induk di Belanda. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi anggota Panti St. Damian. Apa pun perasaan anak asuhnya, Sr. Virgula memiliki argumentasi atas keputusannya.

Pertama, untuk perawatan kakinya yang retak karena jatuh dari kuda. Untuk hal ini, di Eropa, ia mendapat pelayanan asuransi. Kedua, ia tidak mau merepotkan orang lain kalau ia sudah sakit-sakitan.

Suster Virgula sudah jauh di seberang sana. Namun jejak kata dan karyanya masih membekas di tanah Manggarai. Saya mencatat beberapa pesan singkatnya saat Suster Virgula berangkat ke biara induknya di Belanda:

"Jangan sampai mereka terlalu memperhatikan saya dan lupa urus pasien."

"Kalau saya tetap di sini, ada sesuatu keperluan, selalu tanya ke saya. Kamu jadinya tidak bisa kreatif dan mandiri. Yang penting kompak dan dalam Tuhan kita bisa berhasil.”

"Jangan katakan Suster Virgula dulu lain. Setiap orang punya gayanya masing-masing. Jangan suka membanding-bandingkan.”

Kata-kata yang sederhana, tapi sangat bermakna untuk kita dan para penerus karya kasihnya. Terima kasih Suster, sosok wanita luar biasa yang pernah dimiliki Flores.

Kami merindukan Suster Virgula-Virgula lainnya, dari segi pelayanan, rendah hati, pekerja keras, dan mencintai keberagaman. Dan masih banyak lagi kata yang disematkan untuk Suster.

Daftar rujukan:

  1. http://etnohistori.org/edisi-genealogi-gerakan-dan-studi-perempuan-indonesia-misionaris-perempuan-di-awal-abad-xx-karya-suster-ssps-di-flores-oleh-maria-ingrid.html
  2. https://seword.com/urusan-hati/kisah-biarawati-yang-dipuji-soekarno-serta-menolak-abdul-dan-panusu-menjadi-katolik/

Penulis: Febri Edo,  Mahasiswa Komunikasi Jurnalistik, IISIP Jakarta

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar