Selamatkan Terumbu Karang di Sulawesi

Minggu, 11 Juni 2017 | 08:39 WIB
Share Tweet Share

Siobhan Heatwole. [ABC]

Indonesia terkenal dengan biota laut yang sangat indah. Berbagai jenis ikan dan terumbu karang ada di negeri ini. Tetapi itu dulu, cerita lama yang selalu diputar kembali. Bagaimana dengan sekarang?

Saat ini, terumbu karang di hampir seluruh wilayah Indonesia ruak parah akibat penangkapan ikan yang berlebihan, polusi dan pariwisata. Penangkapan ikan dengan cara mengebom adalah salah satu penyebab utama kerusakan terumbu karang.

Salah satu yang rusak parah adalah terumbu karang di Pulau Sulawesi. Ilmuwan kelautan asal Australia, Siobhan Heatwole tertarik untuk merehabilitasi terumbu karang tersebut.

Dia pun memutuskan menjadi relawan di Makassar, membantu penduduk setempat dalam upaya-upaya ramah lingkungan dan berkelanjutan demi melindungi kehidupan laut agar lebih baik di masa depan.

"Sebagian orang di Indonesia menggunakan dinamit dan sianida untuk menangkap ikan. Cara ini membunuh banyak ikan yang bukan menjadi target penangkapan, tetapi justru merusak serta menghancurkan banyak karang," kata Siobhan kepada Lisa Clarke dari ABC.

Sebagai Penasihat Rehabilitasi Terumbu Karang, Siobhan sangat antusias melestarikan lingkungan. Dia menyatakan perlu lebih banyak upaya untuk membantu masyarakat mencapai keseimbangan antara mencari nafkah dan melindungi lingkungan setempat mereka.

"Begitu saya melihat lowongan rehabilitasi terumbu karang di Makassar yang diiklankan oleh AVID, saya langsung mendaftar," katanya.

"Saya sudah bekerja sebagai peneliti kelautan yang mempelajari dampak gangguan manusia terhadap terumbu karang. Pekerjaan saya berimplikasi pada konservasi, namun lebih bersifat teoritis. Menurut saya akan sangat bagus untuk menerapkan pengetahuan itu dalam praktek nyata, terlibat secara aktif berkontribusi pada usaha konservasi dan mempromosikan praktik perikanan berkelanjutan bekerja bersama masyarakat setempat," kata dia.

Siobhan dan timnya di Mars Symbioscience bekerja memberi terumbu karang yang rusak ini 'kehidupan baru'. Caranya dengan meletakkan struktur yang menjadi dasar bagi karang-karang baru untuk tumbuh dan berkembang, dengan menempelkan fragmen terumbu karang yang sehat ke struktur tersebut.

Dampak Pariwisata

Sejak bekerja di Sulawesi, Siobhan telah mengamati beberapa dampak negatif dari sektor pariwisata terhadap terumbu karang di Indonesia.

"Terkadang penyelam, perenang snorkel dan perenang akan berdiri di atas, menabrak atau menendang terumbu karang, yang menghancurkan terumbu karang itu. Di daerah dimana terdapat tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi, terumbu karang bisa sangat rusak karena praktik-praktik seperti ini. Begitu juga dari kapal yang berlabuh dan merusak terumbu karang," jelasnya.

Tanggal 8 Juni menandari peringatan Hari Kelautan Sedunia atau World Oceans Day. Momentum ini memberikan kesempatan untuk mendiskusikan cara melindungi dan melestarikan samudera di dunia.

Siobhan bekerja sama dengan timnya untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat lokal dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan tentang rehabilitasi terumbu karang.

"Keterlibatan masyarakat dalam jumlah besar yang telah dilakukan oleh organisasi saya telah membantu masyarakat dalam memahami apa yang sedang kami lakukan, mengapa, dan apa yang perlu dilakukan di masa depan guna membantu memastikan populasi karang dan ikan yang sehat," kata Siobhan.

"Karena kondisi ini, secara umum masyarakat mendukung upaya-upaya yang dilakukan organisasi saya, begitu pula upaya yang saya lakukan," katanya.

"Ketika harus memilih melakukan sesuatu yang merusak dan makan pada hari itu, atau melakukan sesuatu yang lebih ramah lingkungan tetapi tidak makan, tentunya anda akan memilih 'makan'," katanya.

"Jadi untuk membuat orang menjauh dari praktik memancing yang merusak ke yang lebih berkelanjutan, kita perlu memberi beberapa alternatif," ujarnya.

"Organisasi saya membantu memberikan alternatif penangkapan ikan selain dengan sianida, yaitu mendirikan akuarium dimana mereka dapat mengumpulkan ikan hias di penangkaran dan menjualnya ke pasar ikan hias sebagai bisnis yang lebih berpeluang untuk sukses dan berkelanjutan," katanya.

Editor: Gusti


Berita Terkait

Komentar