Perundingan Perang Dagang, China Akan Hapus Tarif Daging Babi

Senin, 09 Desember 2019 | 00:15 WIB
Share Tweet Share

China berencana menghapus tarif impor kedelai dan daging babi dari AS. Ini merupakan sinyal positif perundingan perang dagang.

[CHINA, INDONESIAKORAN.COM] China berencana menghapus tarif impor sejumlah barang dari Amerika Serikat (AS), seperti kedelai dan daging babi. Langkah ini dinilai menjadi nilai positif dalam pembahasan perundingan perang dagang dengan lawannya tersebut.

Kementerian Keuangan China mengungkapkan bakal membebaskan bea masuk apabila importir mengajukan permohonan pembebasan tarif impor. Namun, tidak dirinci barang-barang yang dikecualikan pembebasan tarif impor.

Mengutip CNN.com, Sabtu (7/12), perdagangan kedelai dan daging babi terpukul, karena meningkatnya ketegangan antara dua ekonomi terbesar di dunia sejak genderang perang dagang bergema.

Kedua komoditas tersebut masuk dalam daftar hitam di antara ribuan barang AS yang dikenakan tarif impor oleh China sejak Juli 2018 lalu.

Akibatnya, petani kedelai AS juga yang mengeluhkan pukulannya. Apalagi, China adalah pasar terbesar AS sebelum perang dagang berkumandang. Tahun lalu saja, ekspor kedelai AS ke China turun menjadi US$3,1 miliar, merosot jauh dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$12,2 miliar.

Tak cuma pedagang kedelai, pedagang daging babi AS juga khawatir mereka kehilangan pasar di China yang sedang menggeliat di tengah wabah demam babi Afrika.

Beberapa pekan terakhir, harga daging babi di China sendiri melonjak lebih dari dua kali lipat. Memang, harga mulai turun, tetapi kekhawatiran harga melonjak masih ada jelang musim libur Natal dan Tahun Baru.

Para perunding AS dan China saat ini masih berupaya mencapai kesepakatan dagang. Kedua pihak akan berunding pada 15 Desember nanti, ketika tarif baru AS terhadap barang-barang China dimulai.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump belum memastikan perkembangan dalam perundingan dagang kedua negara. "Saat ini, kita bergerak bersama, kita tidak membahas itu," katanya.

Analis pesimis perkembangan perundingan perang dagang akan terjadi jelang libur akhir tahun. Meskipun, perundingan tidak akan komprehensif, setidaknya tidak akan terjadi pukulan dalam waktu dekat.

"Pasar tidak berharap terjadi putaran tarif berikutnya, tetapi juga skeptis melihat kesepakatan fase satu jelang libur Natal ini," imbuh Edward Moya, Analis Pasar di OANDA.

Editor: Heri


Berita Terkait

Komentar