BCEE KADIN Gelar Workshop & Konsultasi Gratis Penerapan Blockchain

Rabu, 06 November 2019 | 13:18 WIB
Share Tweet Share

Pada pembicara bersama CEO Blockchain Asia Forum, Vincent Choy (Kanan) di hotel

[JAKARTA,INDONESIAKORAN.COM] Pasca penyelenggaraan Global Blockchain Investment Summit 2019 di Jakarta (29-30 Juli 2019), Kadin Indonesia melalui Blockchain Center of Excellence and Education (BCEE) menggelar pelatihan atau workshop bagi perusahaan-perusahaan nasional yang ingin menerapkan teknologi blockchain. 

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Logistik dan Pengelolaan Rantai Pasokan Rico Rustombi menyatakan, penyelenggaraan workshop merupakan program lanjutan sekaligus wujud komitmen Kadin Indonesia dan BCEE dalam penerapan blockchain di Indonesia.“Hari ini kami (Kadin Indonesia), melalui BCEE, menggelar workshop angkatan pertama yakni implementasi tekniologi blockchain di bidang logistik dan maritime, Bidang pertambangan dan Bidang Perbankan dan Asuransi,” kata Rico Rustombi dalam Sambutan Pembukaan Workshop di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Selasa (5/11/2019).

Rico menjelaskan, workshop akan berlangsung selama tiga hari, yakni 5-7 November 2019. Workshop ini diawali dengan paparan umum tentang blockchain serta bagaimana blockchain sebagai sistem database telah diterapkan dalam berbagai sektor (hari I). Selanjutnya, workshop akan memasuki pembahasan yang lebih spesifik dan tematik berbasis studi kasus (case study) beberapa sektor ekonomi. Hari kedua, misalnya, akan secara khusus membahas transformasi sektor industri dengan fokus pada sektor logistik dan kelautan. Selanjutnya, penerapan blockchain pada sektor pertambangan dan pemanfaatan token. Sementara itu, hari ketiga workshop akan membahas khusus sektor perbankan dan insuransi.

“Kadin menyediakan peluang bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan informasi, berdialog, bahkan berkonsultasi secara gratis dengan pakar blockchain. Untuk itu, kami menyediakan sesi khusus bagi para peserta yang serius untuk berkonsultasi secara tertutup,” ujar Rico. Dia menjelaskan, upaya strategis ini dilakukan karena blockchain merupakan teknologi masa depan yang akan dimanfaatkan berbagai sektor ekonomi. Oleh sebab itu, Kadin telah menggandeng Blockchain Asia Forum (BAF) untuk mendirikan BCEE pada Juli lalu.

Peran BCEE adalah:

a. Menjadi mitra kerja strategis Pemerintah untuk mensosialisasikan teknologi blockchain melalui penyelenggraaan Pendidikan dan pelatihan kepada para pelaku usaha di Indonesia.

b. Merumuskan penjabaran implementasi teknologi blockchain kedalam masing-masing sektor dunia usaha di Indonesia.

c. Melakukan advokasi implementasi teknologi blockchain di Indonesia.

d. Melakukan sosialisasi terkait upaya-upaya yang mendorong percepatan adopsi teknologi blockchain diberbagai kegiatan usaha di Indonesia. 

e. Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang mendorong terlaksananya implementasi teknologi blockchain diberbagai sektor bidang usaha di Indonesia.

Meluasnya pemanfaatan blockchain bisa terlihat dari hasil kajian Juniper Research. Kajian tersebut menyebutkan enam dari sepuluh perusahaan terbesar saat ini tengah mempertimbangkan atau telah memulai penerapan teknologi ini. Karena itu, Rico menilai blockchain merupakan tren teknologi global yang akan memainkan peran.

Hidayat Tjokrodjojo, Wakil Ketua Komite Tetap Teknologi Informasi Bidang Logistik Kadin Indonesia menambahkan, pemahaman tentang teknologi blockchain di Indonesia masih terbatas. Teknologi ini lebih diasosiasikan dengan mata uang kripto atau cryptocurrency seperti bitcoin. Padahal, dalam kenyataannya, teknologi ini bisa diterapkan pada berbagai bidang bisnis hingga layanan publik. Hidayat menilai, pada aspek inilah Kadin berperan memfasilitasi edukasi pada pelaku usaha nasional.

“Selain itu, workshop ini juga akan memberikan gambaran bagaimana teknologi blockchain diterapkan di berbagai belahan dunia dan sikap negara atau otoritas pemerintahan menghadapi teknologi ini,” kata Hidayat. 

Menanggapi pernyataan tersebut, Vincent Choy, salah satu dari tiga narasumber dalam workshop menjelaskan bahwa negara-negara memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi teknologi ini. Amerika Serikat memandang teknologi blockchain sebagai sesuatu ancaman yang berbahaya. Sementara itu, China melalui Presiden Xi Jinping justru mendukung penerapan blockchain di berbagai bidang. Ada juga, negara-negara yang tidak menunjukkan sikap pasti atau netral.

“Singapura dan Indonesia bisa dianggap netral. Tapi, Singapura sedikit berubah setelah keluar pernyataan Xi Jinping yang mendukung Blockchain

Selain Vincent Choy, terdapat dua narasumber lain yang mewakili BCEE, yakni Jonathan Oh serta Philip Wong dari The Vision Group. Workshop ini juga menyediakan sertifikat bagi para peserta.

Editor: Iman Febri


Berita Terkait

Komentar