Rai Mantra Siap Revitalisasi 22 Pasar Pasar Tradisonal di Tabanan

Selasa, 13 Maret 2018 | 23:14 WIB
Share Tweet Share

Calon Gubernur Bali Nomor Urut 2, Ida Bagus Rai Dharnawijaya Mantra, saat blusukan ke Pasar Tradisional Bajra, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, Bali, Selasa (13/3/2018). [foto: indonesiakoran.com/ san edison]

[DENPASAR] Calon Gubernur Bali Nomor Urut 2, Ida Bagus Rai Dharnawijaya Mantra, kembali blusukan ke Pasar Tradisional, Selasa (13/3/2018).

Kali ini, Rai Mantra mendatangi Pasar Tradisional Bajra, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, Bali. Kehadiran Rai Mantra, disambut antusias warga setempat.

Dalam blusukan kali ini, Rai Mantra menyempatkan diri berdialog dengan sejumlah pedagang. Rai Mantra juga mengamati kondisi pasar setempat, untuk mencarikan solusi atas persoalan yang dialami.

Rai Mantra yang berpasangan dengan Ketut Sudikerta di Pilgub Bali atau dikenal dengan pasangan Mantra-Kerta, sesungguhnya memiliki program unggulan untuk penataan pasar. Keduanya berkomitmen untuk merevitalisasi seluruh Pasar Tradisional di Pulau Dewata.

Rai Mantra pun berkomitmen untuk merevitalisasi seluruh Pasar Tradisional di Kabupaten Tabanan yang jumlahnya mencapai 22 pasar dan tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Tabanan.

Ke-22 Pasar Tradisional tersebut adalah Pasar Tabanan, Pasar Dauh Pala, Pasar Kediri, Pasar Pupuan, Pasar Surabrata, Pasar Bajera, Pasar Megati, Pasar Gadungan, Pasar Senganan, Pasar Kerambitan, Pasar Marga, Pasar Baturiti, Pasar Penebel, Pasar Candi Kuning (Pasar Khusus), Pasar Sayur Induk Baturiti (Pasar Khusus), Pasar Kediri, Pasar Tanah Lot (Pasar Khusus), Pasar Ulun Danu (Pasar Khusus).

Revitalisasi pasar ini sudah berhasil dijalankan Rai Mantra selama menjadi wali kota Denpasar, dan hasilnya sangat memuaskan.

Khusus untuk Kabupaten Tabanan, Mantra - Kerta sudah menyiapkan sejumlah langkah jitu untuk mendorong pengembangan dan penguatan ekonomi berbasis Pasar Tradisional.

“Hal pertama yang harus dilakukan bagi Pasar Tradisional di Tabanan tentunya adalah revitalisasi,” kata Rai Mantra.

Mengacu pada pengalaman di Denpasar, kata dia, revitalisasi dilakukan dengan cara pembenahan fisik, pelayanan, sumber daya manusia dan permodalan. Terbukti di sejumlah pasar tradisional di Kota Denpasar, revitalisasi pasar ini berhasil mendongkrak pedapatan hingga 1000 persen.

Pasar Agung Peninjoan misalnya. Sebelum dilakukan revitalisasi, pasar menyumbangkan pendapatan antara Rp 200 – 300 juta tiap tahunnya. Setelah revitalisasi, pendapatan per tahunnya bias mencapai Rp 1,3 – 1,5 miliar.

“Revitalisasi ini berhasil menempatkan Pasar Tradisional di Denpasar dalam jajaran Pasar Tradisional terbaik di Asia Tenggara,” tegas Rai mantra.

Langkah berikutnya, menurut Rai Mantra, adalah menjadikan pasar tradisional sebagai destinasi wisata alternatif.

Pasar tradisional di Bali, demikian Rai Mantra, adalah bagian dari aktivitas ekonomi rakyat. Di sanalah warga melakukan interaksi. Dalam tata ruang tradisional Bali, pasar merupakan ruang publik yang wajib ada di setiap desa adat.

“Dengan penataan, pasar bisa menjadi destinasi wisata alternatif. Di sanalah ruang interaksi dan basis ekonomi rakyat yang tidak ada di tempat lain,” tandas Rai Mantra.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar